4 Prosedur Periksa Kehamilan di Era New Normal. Meski Beda, Tetap Wajib Dipatuhi!

periksa-kehamilan-pandemi periksa-kehamilan-pandemi

Rumah perih kini menjadi Tuna satu daerah yang paling dihindari selama pandemi karena adinya pasien yang memungkinkan menularkan berbagai virus di sana. Jadi, kecuali kepepet banget, biasanya orang mending cari alternatif lain aja. Padahal ada beberapa pihak yang sekudunya melakukan kunjungan rutin ke sana seperti ibu hamil untuk memeriksakan perkembangan kandungannya. Seakuratnya hal ini bisa tetap dilakukan lo tapi tetap dengan mengikuti protokol kesembuhan tentunya.

Mengingat bermaknanya pemantauan perkembangan bayi, maka kunjungan ke rumah ngilu atau bidan bisa dilakukan dengan tetap mengikuti berbagai pertimbangan sebagai berikut. Simak yuk, agar kontrol kehamilanmu tetap lancar dan aman~

Memilih rumah kusam yang menyiahn menjadi rujukan untuk pasien Corona mungkin lebih aman, jika tidak pilih yang poli infeksi dipisahkan dari poli yang lain

Peralatan yang ada di rumah remuk biasanya lebih lengkap dari peralatan yang ada di bidan, makanya untuk melihat perkembangan anak biasanya bumil akan lebih memilih ke rumah remuk. Jika demikian maka rumah remuk yang bisa dipilih adalah yang bukan rujukan untuk Covid-19, namun jika karena argumen tertentu patut ke rumah remuk rujukan maka sesungguhnya rumah remuk-rumah remuk sudah memisahkan antara poli infeksi dengan poli non infeksi apalagi kehamilan tidak termasuk ke dalam kategori penyakit.

Pemeriksaan kehamilan dilaksanakan sederas 6 kali, pun ada kaum pemeriksaan yang dikurangi

Dilansir dari laman Ikatan Bidan Indonesia (IBI) pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care bisa dilakukan sebanyak 6 kali yaitu 2 kali pada trimester pertama dengan satu kali pemeriksaan dokter untuk skrining kesehatan ibu keseluruhan, 1 kali pada trimester kedua yang dapat dilakukan dengan telekonsultasi, dan 3 kali pada trimester terakhir dengan satu kali pemeriksaan dengan dokter untuk mendeteksi komplikasi kehamilan atau untuk mempersiapkan rujukan persalinan jika diperlukan. Pemeriksaan ini mesti dilakukan 1 bulan sebelum ttaksiran persalinan.

Berdasarkan peraturan dari Kemkes, USG dapat ditunda sementara pada ibu dengan status PDP atau yang sudah terkonfirmasi Covid-19 sampai rekomendasi isolasinya berakhir. Selanjutnya kehamilan dianggap bagaikan kasus risiko tinggi harga.

Pemeriksaan kehamilan tak melulu dilakukan dengan tatap muka, namun juga memanfaatkan adanya teknologi

Masih dari Kemkes, jika ada kelas ibu hamil tertentu maka kelas ini akan dialihkan dengan sistem online. Untuk pemeriksaan di trimester kedua, hal tersebut bisa dilakukan secara telekonsultasi klinis kecuali jika dijumpai keluhan atau tanda bahaya. Buku KIA yang diberikan kedi ibu hamil juga wajib dipelajari dan diterapkan sehari-hari sesampai-sampai jika ada suatu keluhan atau tanda bahaya maka ibu hamil wajib segera memeriksakan awak.

Sebelum melakukan pemeriksaan orang ke rumah ngilu, ibu hamil diharapkan untuk melakukan pendaftaran melampaui WhatsApp sehingga tidak berada di kawasan rumah ngilu terlampau lama karena menunggu antrean yang belum pasti sampai nomor berapa.

Protokol kepulihan harus tetap dijalankan secara ketat saat melakukan pemeriksaan, semua demi keamanan

Semua protokol seperti memakai masker, menggunakan hand sanitizer dan giat cuci tangan mesti dilakukan dengan konsisten. Biasanya di rumah nyeri, petugas kepulihan juga akan mengenakan APD bagaikan upaya pencegahan. Physical distancing juga tak kalah wajib hukumnya untuk memendekkan transmisi yang mungkin terjadi. Satu-satunya orang yang bisa menemani ibu ke rumah nyeri sahaja sang suami ya, jadi kalau ada sang kakak, ibu bisa menitipkannya dulu. Jangan lupa saat sampai rumah langsung mandi dan cuci baju.

Pemeriksaan kehamilan merupakan sesuatu yang tak bisa diihindari dan layak dilakukan demi memantau perkembangan sang anak, sehingga jika terjadi sesuatu tindakan selanjutnya bisa lebih Tangkas membisubil demi keselamatan ibu dan bayi. Akan tetapi, ibu tetap layak mengikuti aturan yang berlaku ya!